kunjungi juga www.fatullah.blogspot.com
Materi
Perkuliahan Sistem Politik Indonesia
Sejarah
Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang terjadi di
dalamnya. Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat sejarah Bangsa
Indonesia tapi diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam proses
politik biasanya di dalamnya terdapat interaksi fungsional yaitu proses aliran
yang berputar menjaga eksistensinya. Sistem politik merupakan sistem yang
terbuka, karena sistem ini dikelilingi oleh lingkungan yang memiliki tantangan
dan tekanan.
Dalam
melakukan analisis sistem bisa dengan pendekatan satu segi pandangan saja
seperti dari sistem kepartaian, tetapi juga tidak bisa dilihat dari pendekatan
tradisional dengan melakukan proyeksi sejarah yang hanya berupa pemotretan
sekilas. Pendekatan yang harus dilakukan dengan pendekatan integratif yaitu
pendekatan sistem, pelaku-saranan-tujuan dan pengambilan keputusan
Proses
politik mengisyaratkan harus adanya kapabilitas sistem. Kapabilitas sistem
adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan. Pandangan
mengenai keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini berbeda diantara para
pakar politik. Ahli politik zaman klasik seperti Aristoteles dan Plato dan
diikuti oleh teoritisi liberal abad ke-18 dan 19 melihat prestasi politik
dikuru dari sudut moral. Sedangkan pada masa modern sekarang ahli politik
melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu seberapa
besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan
lingkungan internasional.
Pengaruh ini
akan memunculkan perubahan politik. Adapun pelaku perubahan politik bisa dari
elit politik, atau dari kelompok infrastruktur politik dan dari lingkungan
internasional.
Perubahan ini
besaran maupun isi aliran berupa input dan output. Proes mengkonversi input
menjadi output dilakukan oleh penjaga gawang (gatekeeper).
Terdapat 5
kapabilitas yang menjadi penilaian prestasi sebuah sistem politik :
1. Kapabilitas
Ekstraktif, yaitu kemampuan Sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kemampuan
SDA biasanya masih bersifat potensial sampai kemudian digunakan secara maksimal
oleh pemerintah. Seperti pengelolaan minyak tanah, pertambangan yang ketika
datang para penanam modal domestik itu akan memberikan pemasukan bagi
pemerintah berupa pajak. Pajak inilah yang kemudian menghidupkan negara.
2. Kapabilitas
Distributif. SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah sedemikian
rupa untuk dapat didistribusikan secara merata, misalkan seperti sembako yang
diharuskan dapat merata distribusinya keseluruh masyarakat. Demikian pula
dengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali didistribusikan dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
3. Kapabilitas
Regulatif (pengaturan). Dalam menyelenggaran pengawasan tingkah laku individu
dan kelompok maka dibutuhkan adanya pengaturan. Regulasi individu sering
memunculkan benturan pendapat. Seperti ketika pemerintah membutuhkan maka
kemudian regulasi diperketat, hal ini mengakibatkan keterlibatan masyarakat
terkekang.
4. kapabilitas
simbolik, artinya kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara selektif
membuat kebijakan yang akan diterima oleh rakyat. Semakin diterima kebijakan
yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sistem.
5. kapabilitas
responsif, dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output,
output berupa kebijakan pemerintah sejauh mana dipengaruhi oleh masukan atau
adanya partisipasi masyarakat sebagai inputnya akan menjadi ukuran kapabilitas
responsif.
6. kapabilitas
dalam negeri dan internasional. Sebuah negara tidak bisa sendirian hidup dalam
dunia yang mengglobal saat ini, bahkan sekarang banyak negara yang memiliki
kapabilitas ekstraktif berupa perdagangan internasional. Minimal dalam
kapabilitas internasional ini negara kaya atau berkuasa (superpower)
memberikan hibah (grants) dan pinjaman (loan) kepada
negara-negara berkembang.
Ada satu
pendekatan lagi yang dibutuhkan dalam melihat proses politik yaitu pendekatan
pembangunan, yang terdiri dari 2 hal:
a. Pembangunan
politik masyarakat berupa mobilisasi, partisipasi atau pertengahan. Gaya
agregasi kepentingan masyarakat ini bisa dilakukans ecara tawaran pragmatik
seperti yang digunakan di AS atau pengejaran nilai yang absolut seperti di Uni
Sovyet atau tradisionalistik.
b. Pembangunan
politik pemerintah berupa stabilitas politik
PROSES
POLITIK DI INDONESIA
Sejarah
Sistem politik Indonesia dilihat dari proses politiknya bisa dilihat dari
masa-masa berikut ini:
- Masa prakolonial
- Masa kolonial
(penjajahan)
- Masa Demokrasi
Liberal
- Masa Demokrasi
terpimpin
- Masa Demokrasi
Pancasila
- Masa Reformasi
Masing-masing
masa tersebut kemudian dianalisis secara sistematis dari aspek :
Penyaluran
tuntutan
Pemeliharaan
nilai
Kapabilitas
Integrasi
vertikal
Integrasi
horizontal
Gaya
politik
Kepemimpinan
Partisipasi
massa
Keterlibatan
militer
Aparat
negara
Stabilitas
Bila diuraikan
kembali maka diperoleh analisis sebagai berikut :
1. Masa
prakolonial (Kerajaan)
Penyaluran
tuntutan – rendah dan terpenuhi
Pemeliharaan nilai
– disesuikan dengan penguasa atau pemenang peperangan
Kapabilitas – SDA
melimpah
Integrasi vertikal
– atas bawah
Integrasi
horizontal – nampak hanya sesama penguasa kerajaan
Gaya politik -
kerajaan
Kepemimpinan –
raja, pangeran dan keluarga kerajaan
Partisipasi massa
– sangat rendah
Keterlibatan
militer – sangat kuat karena berkaitan dengan perang
Aparat negara –
loyal kepada kerajaan dan raja yang memerintah
Stabilitas –
stabil dimasa aman dan instabil dimasa perang
2. Masa
kolonial (penjajahan)
Penyaluran
tuntutan – rendah dan tidak terpenuhi
Pemeliharaan nilai
– sering terjadi pelanggaran ham
Kapabilitas –
melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah
Integrasi vertikal
– atas bawah tidak harmonis
Integrasi
horizontal – harmonis dengan sesama penjajah atau elit pribumi
Gaya politik –
penjajahan, politik belah bambu (memecah belah)
Kepemimpinan –
dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat
Partisipasi massa
– sangat rendah bahkan tidak ada
Keterlibatan
militer – sangat besar
Aparat negara –
loyal kepada penjajah
Stabilitas –
stabil tapi dalam kondisi mudah pecah
3. Masa
Demokrasi Liberal
Penyaluran
tuntutan – tinggi tapi sistem belum memadani
Pemeliharaan nilai
– penghargaan HAM tinggi
Kapabilitas – baru
sebagian yang dipergunakan, kebanyakan masih potensial
Integrasi vertikal
– dua arah, atas bawah dan bawah atas
Integrasi
horizontal- disintegrasi, muncul solidarity makers dan administrator
Gaya politik -
ideologis
Kepemimpinan –
angkatan sumpah pemuda tahun 1928
Partisipasi massa
– sangat tinggi, bahkan muncul kudeta
Keterlibatan
militer – militer dikuasai oleh sipil
Aparat negara –
loyak kepada kepentingan kelompok atau partai
Stabilitas -
instabilitas
4. Masa
Demokrasi terpimpin
Penyaluran
tuntutan – tinggi tapi tidak tersalurkan karena adanya Front nas
Pemeliharaan nilai
– Penghormatan HAM rendah
Kapabilitas –
abstrak, distributif dan simbolik, ekonomi tidak maju
Integrasi vertikal
– atas bawah
Integrasi
horizontal – berperan solidarity makers,
Gaya politik –
ideolog, nasakom
Kepemimpinan –
tokoh kharismatik dan paternalistik
Partisipasi massa
- dibatasi
Keterlibatan
militer – militer masuk ke pemerintahan
Aparat negara –
loyal kepada negara
Stabilitas -
stabil
5. Masa
Demokrasi Pancasila
Penyaluran
tuntutan – awalnya seimbang kemudian tidak terpenuhi karena fusi
Pemeliharaan nilai
– terjadi Pelanggaran HAM tapi ada pengakuan HAM
Kapabilitas –
sistem terbuka
Integrasi vertikal
– atas bawah
Integrasi
horizontal - nampak
Gaya politik –
intelek, pragmatik, konsep pembangunan
Kepemimpinan –
teknokrat dan ABRI
Partisipasi massa
– awalnya bebas terbatas, kemudian lebih banyak dibatasi
Keterlibatan
militer – merajalela dengan konsep dwifungsi ABRI
Aparat negara –
loyal kepada pemerintah (Golkar)
Stabilitas stabil
6. Masa
Reformasi
Penyaluran
tuntutan – tinggi dan terpenuhi
Pemeliharaan nilai
– Penghormatan HAM tinggi
Kapabilitas
–disesuaikan dengan Otonomi daerah
Integrasi vertikal
– dua arah, atas bawah dan bawah atas
Integrasi
horizontal – nampak, muncul kebebasan (euforia)
Gaya politik -
pragmatik
Kepemimpinan –
sipil, purnawiranan, politisi
Partisipasi massa
- tinggi
Keterlibatan
militer - dibatasi
Aparat negara –
harus loyal kepada negara bukan pemerintah
Stabilitas -
instabil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar